Kita pasti sering ketemu kasus dimana kita melihat dan merasakan sendiri, kok ide-ide gw di tolak mentah – mentah tapi ide yang sama diutarakan oleh orang lain diterima, atau sering kita merasakan, kok individual A diberikan kepercayaan yang sedemikian besar padahal dia biasa-biasa aja, sedangkan individu B yang pinter dan memiliki kompetensi yang tinggi seakan-akan dicuekin, atau kita sebagai karyawan baru susah bener untuk minta tolong sama karyawan lain yang sudah lebih lama dari kita.

Jawaban dari pertanyaan diatas adalah, mereka memiliki “Social Capital” yang berbeda2

Banyak definisi Social Capital dan bisa di cek di Wikipedia.org untuk tahu berbagai definisi Social Capital, saya punya definisi sendiri, sebelum saya tau ada istilah Social Capital saya menyebutnya “Sphere of Influence” yang pada intinya adalah sama : Seberapa besar pengaruh kita/individu/organisasi untuk menggerakkan seseorang/organisasi untuk melakukan sesuatu/mencapai sesuatu

Mekanisme Social Capital kurang lebih seperti ini :

Social capital 1 sapiterbang

Pada intinya seorang individu atau organisasi yang bisa menciptakan kepercayaan (Trust) sesama mereka dan menjalankan komunikasi yang efektif akan pada akhirnya mengakumulasikan social capital yang cukup untuk menggerakkan individu atau organisasi untuk mencapai tujuan individu atau organisasi

Jadi sudah pasti, semakin besar Social Capital kita semakin mudah kita menggerakkan sebuah komunitas untuk melakukan sesuatu, atau pada level yang paling rendah semakin mudah kita untuk minta tolong kepada orang lain.

Sama halnya dengan “capital” didunia fisik, modal perlu di maintain, sebuah capital dapat bertumbuh kembang dengan baik ketika terjadi hubungan timbal balik yang menguntungkan, dalam arti “I scratch your back you scratch my back” bila ada 1 pihak didalam komunitas kita yang merasa dirugikan dengan kehadiran kita maka social capital kita tidak akan bertumbuh atau malah bisa berkurang

Persepsi semakin banyak teman semakin bagus,melemahkan social capital kita, karena modal “capital” kita  akhirnya  “spread to thin” tersebar sehingga tipis, karena social capital kita tersebar terlalu tipis akhirnya social capital kita tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk bertumbuh dan memberikan benefit bagi kita, kita perlu menyeimbangkan antara penyebaran dan kedalaman social capital kita, pilihlah beberapa komunitas yang memang strategis – yang memberika benefit paling besar untuk pencapain tujuan kita – lalu investasikan social capital kita dengan kedalaman yang cukup, sehingga bisa bertumbuh kembang dan memberikan benefit kepada kita.

Social Capital dibangun dengan berusaha untuk menciptakan “level of trust” dan komukasi yang tinggi, level of trust dan komunikasi perlu dibangun dengan memperhatikan :

social capital 2 sapiterbang

  1. Perhatikan dinamika group – seperti hirariki didalam group siapa yang menjadi figure otoritatif (dituakan), bagaimana cara pengambilan keputusan, siapa saja yang mempunyai sumberdaya (ketrampilan, uang, network etc)
  2. Perhatikan Norma – norma yang berlaku didalam group tersebut, – jangan berusaha untuk menciptakan revolusi terhadap norma-norma tersebut
  3. Perhatikan cara tiap individu berinteraksi – frekuensi mereka bersama, kata2 yang disampaikan, dll
  4. Setelah memperhatikan dan mengetahui cara “bermain” didalam group tersebut, mulailah berpartisipasi didalam group tersebut
  5. Partisipasi tersebut bertujuan untuk menciptakan trust terhadap kita atau organisasi yang hasilnya adalah pemupukan Social Capital.

Layaknya modal fisik yang dicari-cari oleh semua orang di dunia ini, demikian pula dengan Social Capital yang dicari-cari oleh semua orang

Kehidupan Pekerjaan pun sama seperti itu, tingkat social capital didalam dunia kerja berbeda-beda dari satu orang ke orang yang lain, kita perlu bisa melihat siapa di lingkungan kerja kita yang memiliki social capital terbesar dan layaknya gula yang selalu dicari oleh semut, kita harus bisa menggunakan social capital tersebut untuk mencapai tujuan kita, dan dalam waktu yang sama menggunakan hubungan tersebut untuk menaikkan social capital kita juga.

Untuk mencegah terjadinya “bubble burst” didalam kehidupan social kita, bangunlah social capital kita atas dasar : kompetensi, prestasi, keterbukaan dan mutual benefit (saling menguntungkan), jangan dibangun atas dasar manipulasi dan egosentris. Sebuah modal hanya  bisa bertumbuh kembang dengan baik bila dibangun atas dasar yang benar.

Sama seperti api, pengetahuan atas social capital bisa membangun sebuah komunitas dan membuat komunitas tersebut mencapai tujuannya dengan lebih cepat, atau bisa malah meruntuhkan komunitas tersebut.

Kehidupan pekerjaan adalah sebuah medan perang memperbutkan pengaruh (influence) dan sama seperti sebuah perang, negara dengan modal terkuat akan mempunyai peluang lebih besar untuk menang, social capital adalah salah satu modal kita didalam medan perang tersebut. – How bad it may sounds, I’m just telling you the truth-

Grow your social capital, grow your professional competency, achieve your goals – sapiterbang –