Istana diatas rawa_sapiterbang

Ada sebuah cerita dimana ada seorang yang membangun istana diatas rawa, dengan susah payah dia menyusun batu demi batu hingga jadilah sebuah istana sesuai yang ada di benaknya lalu perlahan tapi pasti tenggelamlah istana tersebut, lalu dia mulai mengambil batu lagi dan menyusun lagi sebuah istana diatas rawa dengan tekun dia menyusun batu-batu tersebut, hingga jadilah istana kedua lalu perlahan tenggelam lagi istana kedua tersebut, lalu dia memulai lagi proses yang sama membangun sebuah istana diatas rawa lalu tenggelamlah istana ketiga, aktifitas ini berulang terus hingga istana ke lima, dan istana kelima tidak tenggalam karena berdiri diatas istana pertama hingga ke empat yang ada didalam rawa tidak terlihat oleh orang lain.

Didalam perjalanan karir saya, saya juga sering merasa seperti ini, perlahan – lahan menyusun batu melalui pekerjaan sehari – hari saya hingga akhirnya merasa “akhirnya jadi juga sebuah istana” lalu istana tersebut tenggelam perlahan-lahan, saya merasa pekerjaan yang dilakukan sia-sia. Kita semua pernah mengalami kondisi seperti ini, dimana kita merasa pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari adalah percuma dan istana kita tidak kunjung jadi atau bahkan seperti cerita diatas istana kita tenggelam begitu aja.

“Courage doesn’t always roar. Sometimes courage is the little voice at the end of the day that says I’ll try again tomorrow.” ― Mary Anne Radmacher  – Terjemahan : “Keberanian tidak selalu dalam bentuk pekikan (teriakan, gemuruh). Terkadang Keberanian adalah suara kecil yang kita dengar di akhir hari yang berkata : besok saya coba sekali lagi”

Ketika istana kita terus tenggelam, apa yang sebenarnya sedang kita lakukan ?

  1. KITA SEDANG BELAJAR MENJADI AHLI

Ketika kita mendapatkan penolakan atau kerja keras kita sepertinya tidak menghasilkan apa-apa secara naluri kita, kita pasti akan berfikir “saya salah apa ya ? mungkin harus dilakukan dengan cara yang berbeda ?” disini proses belajar kita terjadi, kita mengasah diri kita agar kita menjadi lebih tajam didalam keahlian kita. Analogi didalam cerita diatas kita menjadi semakin jago didalam memilih batu yang akan kita gunakan dan menjadi semakin ahli didalam menyusun batu.

Dari kegagalan kita, kita juga belajar untuk mengkombinasikan berbagai keahlian yang kita miliki dari kegagalan biasanya kita menemukan bahwa kita perlu informasi atau keahlian tambahan agar bisa berhasil di percobaan kedua, disinilah kesempatan kita untuk pro aktif dan terus belajar untuk memperdalam keahlian kita dan mengkombinasikan dengan ilmu-ilmu lain yang mendukung keahlian kita.

  1. MENCARI POLA YANG BENAR

Kita tidak boleh menyerah dan jangan pernah menyerah tapi kalau kita terus jatuh di lubang yang sama tanpa ada improvement apapun itu salah.

Thomas Alfa Edison gagal 10.000 kali experiment untuk menemukan bohlam, jadi Thomas Alfa Edison menekuni hal yang sama hingga berhasil namun ini bukan jalan hidup bagi Sheldon Adelson seorang raja Casino, dia mengawali usahanya dari menjual Koran, bila kita menggunakan pola pikir Alfa Edison harusnya Sheldon menjadi seorang penerbit Koran (atau pekerjaan apapun yang berhubungan dengan Koran)  namun kenyataannya tidak begitu Sheldon terus mencari pola yang benar dari menjual Koran beralih ke menyewakan “vending machine” lalu menjual perlengkapan mandi ke hotel lalu menjual cairan pembersih lalu membuka tour dan travel, membuka EO hingga akhirnya membuka sebuah Kasino yang dikenal dengan Las Vegas Sands, ingat Marina Bay Sands lalu Venetian Casino di Macau ? yup Sheldon lah juragan besarnya.

Perjalanan Sheldon berbeda dengan perjalan Thomas Alfa Edison, lalu apa yang membedakan dan apa yang bisa kita pelajari ? pertama-tama keduanya tekun mencoba, namun yang membedakan adalah :

Ketika menemukan lampu bohlam Thomas Alfa Edison adalah seorang penemu yang telah berumur 51 tahun dan sudah mempunyai usaha yang stabil dari berbagai penemuan yang dilakukan sebelumnya, Edison mempunyai dana sebesar USD 40.000 yang digunakan untuk eksperimen lampu bohlam sehingga Thomas Alfa Edison bisa focus bereksperiment tanpa khawatir orang dirumah akan makan apa.

Sheldon Adelson memulai bisnisnya dari keluarga miskin. Sheldon harus bersedia untuk mengubah pola kerjanya terjun ke industri yang berbeda agar tetap bertahan hidup.

Kondisi kita ada dimana ? di kondisi Thomas Alfa Edison atau di kondisi Sheldon Adelson ?

Ada satu hal yang perlu diingat sebelum memutuskan untuk berpindah-pindah pekerjaan atau industri. Kompetensi (Keahlian) Utama kita harus tetap sama, industri boleh berbeda namun kita harus memperdalam Kompetensi Utama kita. Jika kita jago masak jangan serta merta memutuskan untuk pindah ke menjadi seorang jago menjahit, bila memang dirasa memiliki keahlian silahkan saja. Jika kita jago didalam berbicara kita bisa berpindah-pindah menjadi motivator, perusahaan marketing, pengarang buku, dll.

Kesempatan itu seperti potongan puzzle dan ketika kita membangun “istana” kita sedang membentuk puzzle kita juga, semakin banyak kita membangun “istana” semakin banyak pula bentuk puzzle yang kita miliki, ketika “Puzzle” kesempatan itu datang dan bertemu dengan kepingan puzzle milik kita dan cocok saling kait mengait disanalah kita memanen jerih payah kita.

Jangan menyerah, teruslah membangun istana di atas rawa, saya juga sedang membangun istana diatas rawa kamu tidak sendirian.

 Baca : Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sebuah usaha berhasil