Membandingkan diri dengan orang lain – OPTIMALISASI DIRI VS MENIKMATI BERKAT HARI INI

MembandingkanBagaimana kita bisa tahu apakah kita sudah jalan di jalan yang benar atau apakah kita sudah hidup dengan memaksimalkan potensi kita ?

Ini adalah pertanyaan yang ada di benak saya selama mungkin 1 kwartal disaat dimana teman teman kita menceritakan dengan gembiranya perihal kenaikan pangkat mereka, kenaikan omzet mereka, pembelian rumah baru atau mobil baru , jalan jalan ke luar negri atau menjadi pembicara di acara bergengsi. Di saat yang sama saya melihat hidup saya dan timbul pertanyaan ; “kok saya begini begini saja ? apakah saya sudah hidup dengan memaksimalkan potensi saya ?”

Sudut pandang saya di ambil dari terlepas apa latar belakang mereka. Saya dan teman teman saya memulai di garis start yang sama, kita mulai dari garis start satu angkatan namun setelah lebih dari 5 tahun kemudian berakhir di garis finish yang berbeda.

PERASAAN TIDAK BERGUNA

Dengan kehidupan yang bercukupan dan ada uang di rekening bank pun baru kali ini saya menyadari bahwa kita bisa merasa bahwa kita tidak berguna, dengan terus melihat keatas membandingkan pencapaian kita dengan pencapaian teman teman kita yang jauh lebih berhasil dari kita, perasaan tidak berguna itu dapat dengan cepat muncul dan bertahan dengan lengketnya.

Saya merasa saya tidak bekerja cukup keras, saya tidak mengoptimalkan semua kesempatan yang ada. Rumput tetangga tampak begitu hijau dan segar sementara rumput saya terasa gersang dan yang terburuk adalah saya melihatnya bahwa ini semua adalah salah saya.. saya lah yang bertanggung jawab membuat rumput saya tidak sehijau tetangga.

MENOLAK UNTUK MELIHAT KEBAWAH

Sang bijaksana di benak saya mengingatkan untuk jangan terus melihat keatas tapi lihatlah juga kebawah ke teman teman yang tidak secemerlang teman teman yang menjadi gula di matamu, namun pengingat itu dapat di patahkan oleh sang logis di diri ini.

“Kita harus terus melihat keatas agar kita tahu apa yang bisa dicapai oleh orang ! jangan sampai kita menjadi puas karena melihat kebawah, kalau mereka bisa, kamu juga bisa”

Tentu saja sang logis selalu mendapat tempat yang spesial di saat saat galau seperti ini dan sang bijaksana hanya mendapat tempat di pojok yang gelap.

Pemikiran tanpa henti yang terus bertanya :

“Apa yang dilakukan oleh mereka yang terlebih dahulu berhasil yang saya tidak lakukan ?”

“Kayaknya jadi orang gajian lebih enak daripada jadi wirausaha kayak begini”

“Gw gak aman, bener bener gak aman, mending cari yang aman aman saja”

 

Tanpa disadari saya berlari berputar putar mengejar ekor sendiri didalam pikiran saya, berputar.. berputar.. dan berputar, seperti lingkaran berbentuk spiral yang sayang tidak bergerak keatas saya bergerak kebawah semakin dalam dan gelap terisolasi di benak sendiri.

LELAH DAN MENYERAH

Seperti tanah longsor yang diawali dari hanya sebuah batu kecil yang jatuh di tebing terjal, perasaan tidak berguna ini terus menggulung dan menjadi semakin besar. Dalam hanya beberapa bulan saya pun menjadi sangat lelah dan ingin segera menyerah ingin mencari jalan yang lain, pencarian kesempatan yang sporadis semua ingin dicoba,seperti seorang yang sangat lapar ketika melihat makanan semua ingin di masukan ke dalam mulut.

Lebih memilih untuk tidur panjang daripada bangun di pagi hari, lebih memilih untuk bangun siang daripada bangun pagi seakan tidak ada tujuan yang dikejar dalam hidup ini, seakan semua usaha yang dilakukan adalah sia-sia, padahal apa sih yang bisa dicapai dalam 3 bulan terlalu cepat untuk mengharapkan sebuah hasil.

Saya lelah…

PENCERAHAN

Ada masa di hidup saya dimana saya merasa begitu bebas dan begitu optimis terhadap hidup. Fase ini terjadi dimasa saya SMA hingga lulus kuliah selama 3 tahun SMA dan 4 tahun Kuliah, hidup sangatlah asik, bebas dan penuh optimisme, bahkan setelah 1 tahun lulus pun dunia terasa bisa saya taklukan dengan mudah.

Diri saya yang sekarang ini kembali ke masa lalu dan mencari tahu apa yang menyebabkan perbedaan ini. Tentu saja dunia di saat itu dan dunia saya sekarang jauh berbeda namun saya percaya secara esensi nilai nilai universal yang membebaskan seseorang adalah sama apapun kondisi yang ada.

PEMBEBAS UNIVERSAL

Saya tidak menganggap diri saya seorang yang religius walau saya mengadopsi nilai nilai religi yang ditanamkan sejak kecil. Di dalam saat yang tidak pasti ini saya pun kembali menggali nilai nilai tersebut.

Saya sadar bahwa pengalaman 3 bulan belakangan ini adalah usaha saya untuk menjaga keseimbangan antara mengoptimalkan diri saya versus menikmati berkat yang ada.

Dan upaya terapi diri sendiri yang saya yakini dan harus terus saya tanamkan kedalam diri saya setiap pagi adalah :

  1. Sia sialah usaha manusia bila bukan Tuhan yang memang memberikan, tidak sepenuhnya salah kamu bila kamu berada di situasi seperti ini, seperti petani yang hanya bisa mengelola lahan, kelolalah lahan sebaiknya. Tuhan yang mengatur curah hujan, curah matahari dan perlindungan dari hama. Tugas manusia adalah untuk terus hadir dan mengelola aset yang dipercayakan.
  2. Jangan membandingkan keberhasilan orang lain dengan keberhasilan kita karena walau kita seakan hidup di lingkungan yang sama, di waktu yang sama, tampak nyata dan bisa kita sentuh dan berinteraksi, sebenarnya dunia mereka jauh berbeda dengan dunia kita, anggaplah seperti dunia pararel yang bisa kita lihat, sentuh, rasakan tapi itu bukan milik kita.
  3. Optimalisasi diri kita bukan dengan membandingkan orang lain tapi dengan terus menerus memperbaiki diri kita, kita berlari kencang bukan untuk mengejar garis finish orang lain tapi untuk membuat diri kita sendiri lebih baik.
  4. Harta, Uang, Keberhasilan memang nikmat untuk dirasakan oleh mata dan hati namun kebahagiaan sejati tidak bersumber disitu, kebahagiaan sejati datang dari hal hal yang abadi seperti pertemanan dan keluarga.
  5. Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu dan perlahan bangun terus pondasi pondasi yang permanent (keahlian, pengalaman dan relasi.) bukan yang temporer.

PENUTUP

Negara atheis mengatakan : “agama adalah candu yang menghambat kemajuan peradaban manusia, manusia lemah berlindung dibalik nilai nilai agama”

saya sudah mencicipi sedikit filosofi diatas dan dalam beberapa bulan saja saya sudah lelah dan menyerah.

Sebuah perjalanan panjang baru saja dimulai perjalanan yang mendidik saya untuk menyeimbangkan OPTIMALISASI DIRI VS MENIKMATI BERKAT HARI INI. Pasti akan ada moment dimana saya akan kembali merasa lelah dan ingin menyerah dan ada moment moment dimana saya merasa dunia ini indah sekali. Sebuah perjalanan spiral yang terus berulang namun kali ini perjalanan spiral ini tidak mengarah  kebawah namun keatas. Sebuah spiral yang tidak menuju isolasi diri namun ke atas menuju pembebasan diri.

Saya yakin saya tidak sendiri didalam menjalani perjalanan ini, kita semua pasti merasakan hal yang sama. Selamat menikmati perjalanan kita dan ingatlah kita hanya bisa menikmati hari ini bukan masa lalu dan masa depan. Jangan sampai masa lalu dan masa depan merusak hari ini.

Salam Sapiterbang.

Baca : Membangun diatas Kegagalan

 

Leave a reply