Apakah kamu pem”Bully” di tempat kerja ?

bullyKita beranggapan perundungan (bully) hanya terjadi di sekolah dan tidak di tempat kerja namun saya sendiri menemukan bahwa di tempat kerja banyak sekali Bully dan salah satunya adalah saya sendiri.

Bekerja dengan rekan kerja yang performanya jauh dibawah ekspektasi sering menimbulkan rasa kecewa dan rasa kesal sering memuncak.

Komentar-komentar seperti dibawah ini yang selalu di ikuti dengan nada suara yang tinggi atau merendahkan :

“Masak seperti itu gak tau ?!”

“Kamu salah lagi nih… udah berapa kali kamu salah ?!”

“Lupa lagi ?!.. salah lagi… ?!”

“Bisa kerja gak sih…. ?! Sekolah dimana sih kamu ?!”

Kata-kata ini adalah luapan emosi yang dikeluarkan tanpa filter, lalu mengapa hal ini termasuk dalam kategori “bullying” karena tujuan dalam mengucapkan hal-hal ini bukanlah untuk membangun tetapi bertujuan untuk menunjukkan kesalahan dan dengan demikian merendahkan dirinya menunjukkan betapa besar minus yang ada didalam diri lawan bicara kita.

Menunjukkan bahwa saya benar dan kamu salah bahkan kalau bisa menunjukkan bahwa kamu sering salah bahkan selalu salah, tidak berguna.

Dan kata-kata ini bisa berakibat dengan hilangnya rasa percaya diri rekan kerja tersebut.

Belajar dari pengalaman ini, Saya mengkategorikan jika perbuatan dan perkataan saya menghilangkan percaya diri seseorang maka secara di sengaja atau tidak disengaja itu adalah tindakan bullying.

KESADARAN DIRI

Posisi diatas dengan mempunyai bawahan kita diharapkan mempunyai pengalaman dan kedewasan diri untuk bisa me-manage bawahan. Saya sadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan sering kali kita terbawa emosi pada saat-saat dimana kita berhak untuk marah.

Saya menyadari bahwa jika pada saat semua kacau balau dan terbawa emosi untuk marah, akibat dari kemarahan saya  berpotensi menghilangkan rasa percaya diri seseorang, maka menurut saya  itu adalah tanda bahwa saya belum cukup dewasa untuk memimpin.

Kemarahan disaat kritis bertujuan untuk menghadirkan solusi dan memotivasi tim untuk bekerja keras mengatasi permasalahan bukan untuk mengambil harga diri dan rasa percaya diri orang lain.

Kehadiran kita sebagai pemimpin harusnya menumbuhkan rasa percaya diri rekan kerja tersebut agar dia bisa bertumbuh dan interaksi bawahan dengan atasan menghasilkan pertumbuhan karakter, pengalaman dan ketrampilan bukan sebaliknya.

PENUTUP

Bentuk interaksi di tempat kerja beragam dan tingkat “koreksi” yang pantas dilakukan oleh atasan terhadap bawahan pun bervariasi, namun saya tahu satu hal yang pasti bila tindakan koreksi tersebut mengambil harga diri dan rasa percaya diri orang lain, itu bukanlah tindakan koreksi itu adalah bullying yang dikemas secara birokrasi organisasi.

Suasana kerja yang positif dimana setiap anggota tim saling membangun dan saling mengkoreksi dengan positif akan menghasilkan pertumbuhan usaha yang positif pula.

Leave a reply